WADUK KEDUNGOMBO

Bendungan Waduk Kedungombo sebenarnya berlokasi di Sungai Serang, tepatnya di Dusun Kedungombo, Desa Ngrambat, Kecamatan Geyer, Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah. Untuk membangun proyek secara keseluruhan, yang meliputi waduk, Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), dan jaringan irigasi, pemerintah (dalam hal ini Direktorat Jendral Pengairan) harus membebaskan 9.623 hektare(ha) tanah, dengan status kepemilikan dari Kas Desa/Bengkok 7394 ha, PT. Perhutani 382 ha dan Tanah Warga seluas 1847 ha. Sedangkan jumlah kepala keluarga (KK) yang tanah/bangunannya terkena pembebasan mencapai 5.283 KK, terdiri atas 23.380 jiwa yang mukim di 37 desa, tujuh kecamatan, dan tiga kabupaten (Boyolali, Sragen, Grobogan).

Secara garis besar, pelaksanaan pembangunan waduk ini dimulai dengan melakukan studi kelayakan pada tahun 1976, pembebasan tanah mulai tahun 1982, dan pembangunan fisik mulai tahun 1985. Kemudian peresmian penggunaannya dilakukan Presiden Soeharto pada 18 Mei 1991. Meski sudah diresmikan, sebenarnya masih ada beberapa bagian yang belum terselesaikan. Jadi pembangunan fisik secara keseluruhan (bendungan/waduk, jaringan irigasi dan PLTA) baru terselesaikan pada tahun 1993.

Total biaya yang dikeluarkan untuk merealisasikan mega proyek tersebut tercatat sekitar Rp. 495,52 miliar. Untuk pelaksanaan pembangunannya, biaya berasal dari dana pinjaman Bank Dunia Nomor 2543-IND sebesar 156 juta dolar AS, serta Bank Exim Jepang sebesar 25,2 juta dolar AS. Dengan demikian dana pinjaman dari dua lembaga itu berjumlah 181,2 juta dolar AS, atau kira-kira Rp. 453 miliar (kurs rupiah terhadap dolar AS saat itu Rp. 2.500,-/dolar AS). Khusus proses pembebasan tanah maupun pemindahan penduduk, biaya dibebankan melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara bertahap dalam beberapa tahun anggaran.

Sumber : Menyelami Kedungombo

Penerbit : Kelompok Diskusi Wartawan Propinsi Jawa Tengah

Komentar bertahan »

Lawang Sewu

Bagi warga Jawa Tengah, nama Lawang Sewu tentu sudah tidak asing lagi. Ini adalah nama sebuah bangunan kuno yang letaknya persis di tengah kota Semarang, tepatnya di daerah Tugu Muda. Disebut “lawang sewu” (pintu seribu) karena bangunan peninggalan jaman Belanda ini memang memiliki pintu yang banyak sekali.

Lawangsewu dibangun tahun 1908, yang dikerjakan oleh arsitek Belanda Profesor Klinkkaner dan Quendaag. Tahun 1920, gedung ini mulai dipakai sebagai kantor pusat Nederlandsch Indische Spoor-weg Maatschapij (NIS), sebuah maskapai atau perusahaan kereta api pertama di Indonesia yang berdiri pada tahun 1864. Gedung Lawang Sewu pada jaman Belanda (Sumber: www.semarang.nl)

Jalur pertama yang dilayani saat itu adalah Semarang – Yogyakarta. Pembangunan jalur itu dimulai 17 Juni 1864, ditandai dengan pencangkulan pertama oleh Gubernur Jendral Hindia Belanda Sloet van Den Beele. Tiga tahun kemudian, yaitu 19 Juli 1868 kereta api yang mengangkut penumpang umum sudah melayani jalur sejauh 25 km dari Semarang ke Tanggung.

Dengan beroperasinya jalur tersebut, NIS membutuhkan kantor untuk melaksanakan pekerjaan-pekerjaan administratif. Lokasi yang dipilih kemudian adalah di ujung Jalan Bojong (kini Jalan Pemuda). Lokasi itu merupakan perempatan Jalan Pandanaran, Jalan Dr Soetomo, dan Jalan Siliwangi (kini Jalan Soegijapranata). Gedung Lawang Sewu pada jaman Belanda, sebelum ada lapangan Tugu Muda (Sumber: www.semarang.nl)

Saat itu arsitek yang mendapat kepercayaan untuk membuat desain adalah Ir P de Rieau. Ada beberapa cetak biru bangunan itu, antara lain A 387 Ned. Ind. Spooweg Maatschappij yang dibuat Februari 1902, A 388 E Idem Lengtedoorsnede bulan September 1902, dan A 541 NISM Semarang Voorgevel Langevlenel yang dibuat tahun 1903. Ketiga cetak biru tersebut dibuat di Amsterdam.

Namun sampai Sloet Van Den Beele meninggal, pembangunan gedung itu belum dimulai. Pemerintah Belanda kemudian menunjuk Prof Jacob K Klinkhamer di Delft dan BJ Oudang untuk membangun gedung NIS di Semarang dengan mengacu arsitektur gaya Belanda.

Lokasi yang dipilih adalah lahan seluas 18.232 meter persegi di ujung Jalan Bojong, berdekatan dengan Jalan Pandanaran dan Jalan Dr Soetomo. Tampaknya posisi itu kemudian mengilhami dua arsitektur dari Belanda tersebut untuk membuat gedung bersayap, terdiri atas gedung induk, sayap kiri, dan sayap kanan.

Sebelum pembangunan dilakukan, calon lokasi gedung tersebut dikeruk sedalam 4 meter. Selanjutnya galian itu diurug dengan pasir vulkanik yang diambil dari Gunung Merapi.

Pondasi pertama dibuat 27 Februari 1904 dengan konstruksi beton berat dan di atasnya kemudian didirikan sebuah dinding dari batu belah. Semua material penting didatangkan dari Eropa, kecuali batu bata, batu gunung, dan kayu jati.

Setiap hari ratusan orang pribumi menggarap gedung ini. Lawang Sewu resmi digunakan tanggal 1 Juli 1907. Dalam perkembangannya, Lawang Sewu juga terkait dengan sejarah pertempuran lima hari di Semarang yang terpusat di kawasan proliman (Simpanglima) yang saat ini dikenal sebagai Tugu Muda. Kaca timah yang menghiasi interior gedung.

Saat meletus Pertempuran Lima Hari di Semarang, 14-18 Agustus 1945, Lawangsewu dan sekitarnya menjadi pusat pertempuran antara laskar Indonesia dan tentara Jepang. Pada peristiwa bersejarah tersebut, gugur puluhan Angkatan Muda Kereta Api (AMKA). Lima di antaranya dimakamkan di halaman depan Lawang Sewu. Mereka adalah:

- Noersam
- Salamoen,
- Roesman,
- RM Soetardjo, dan
- RM Moenardi.

Untuk memperingati mereka, di sebelah kiri pintu masuk (gerbang) didirikan sebuah tugu peringatan bertuliskan nama para pejuang Indonesia yang gugur. Gedung Lawang Sewu sekarang (Sumber: Kresno Aji)

    Perusahaan kereta api kemudian menyerahkan halaman depan seluas 3.542,40 meter persegi pada Pemda Kodya Semarang. Sedangkan makam lima jenasah di halaman itu, 2 Juli 1975 dipindah ke Taman Makam Pahlawan Giri Tunggal dengan Inspektur Upacara Gubernur Jateng Soepardjo Roestam.

    Referensi:

    - Wikipedia Indonesia

    - pramesiku.blogspot.com

    - Suara Merdeka

    - www. semarang.nl

    Komentar bertahan »